Jumat, 01 April 2011

BANK HAGA dan RABOBANK DUTA pada 24/06/08 dan menjadi PT. RABOBANK INTERNATIONAL INDONESIA

Bank Umum Konvensional | Unit Usaha Syariah | Bank Umum Syariah | BPR Konvensional

Bank telah melakukan merger dengan BANK HAGA dan RABOBANK DUTA pada 24/06/08 dan menjadi PT. RABOBANK INTERNATIONAL INDONESIA

Sumber data : Berdasarkan Laporan Bulanan Bank Umum (LBU) yang disampaikan Bank kepada Bank Indonesia
Keterangan : 1. Format Laporan ini sesuai dengan format dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.12/11/DPNP tanggal 31 Maret 2010 Tentang Perubahan Kedua atas SE BI No.3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia.
2.Bank Indonesia tidak bertanggung jawab terhadap kebenaran isi laporan. Kebenaran isi laporan tersebut sepenuhnya merupakan tanggungjawab bank.
3.Apabila ada pertanyaan mengenai isi laporan dapat menghubungi alamat/nomor telepon Bank yang bersangkutan sebagaimana tercantum di atas.

Laporan Perubahan Keuangan

Sebagai sebuah badan usaha, kita harus membuat laporan keuangan untuk memastikan bahwa tidak ada uang yang hilang. Untuk membuat laporan keuangan, terdapat dua hal yang perlu dibuat, yaitu neraca dan laporan laba-rugi.
Neraca adalah laporan keuangan yang menggambarkan posisi keuangan sementara dari sebuah usaha. Neraca terbagi dalam dua komponen, yaitu bagian yang menguraikan aset-aset perusahaan dan bagian lain yang berisi kewajiban. Komponen aset terdiri atas dua bagian, yaitu aset tetap, dan aset lancar.
Selain neraca, kita juga harus membuat laporan laba rugi. Laporan laba-rugi menggambarkan keadaan suatu usaha dalam waktu tertentu, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan yang sekaligus dapat menunjukkan laba bersih perusahaan, baik berupa keuntungan maupun kerugian. Dalam laporan laba-rugi terdapat komponen harga pokok penjualan yang menggambarkan biaya, termasuk ongkos kirim dari barang dagangan selama periode tertentu.
Apa yang kita peroleh dari laporan laba-rugi dan neraca
1. Menentukan penjualan bersih tahun depan berdasarkan informasi laba berih dan margin laba bersih.
Penjualan bersih = laba bersih/magin laba bersih
Margin laba bersih = laba bersih/penjualan bersih
2. Rasio likuiditas, merupakan rasio yang menunjukkan apakah usaha kita dapat menutupi kewajiban dalam jangka pendek yang jatuh tempo.
3. rasio penjualan bersih atas aset total, merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan penjualan terkait aset yang dimilikinya.
4. rasio laba bersih atas modal, merupakan rasio yang menunjukkan tingkat pengembalian keuntungan dari setiap modal yang ada di perusahaan.

Laporan Perubahan Keuangan

Laporan yang menunjukkan perubahan untuk periode tertentu, mungkin satu bulan atau satu tahun. Melalui laporan perubahan modal dapat diketahui sebab – sebab perubahan modal selama periode tertentu.

Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa Laporan arus kas atau Laporan arus dana
Catatan dan laporan keuangan perusahaan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan
Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah laporan aktiva, kewajiban,dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinereja dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Bisa saja memanfaatkan jasa laporan keuangan (jasa analisa keuangan ) maupun akuntan publik. Laporan posisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur neraca. Selain itu juga biasanya laporan keuangan juga be analisais keuangan selama setahun.

Manajemen Penggunaan Dana

Penjelasan Singkat Masing-Masing Fungsi Manajemen Keuangan :
1. Perencanaan Keuangan
Membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu
2. Penganggaran Keuangan
Tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan
3. Pengelolaan Keuangan
Menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara
4. Pencarian Keuangan
Mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan
5. Penyimpanan Keuangan
Mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dana tersebut dengan aman
6. Pengendalian Keuangan
Melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada paerusahaan
7. Pemeriksaan Keuangan
Melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan.
Bila dikaitkan dengan tujuan ini, maka fungsi manajer keuangan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Melakukan pengawasan atas biaya
2. Menetapkan kebijaksanaan harga
3. Meramalkan laba yang akan datang
4. Mengukur atau menjajaki biaya modal kerja

Tujuan Manajemen Keuangan

Tujuan dengan adanya manajer keuangan untuk mengeloka dana perusahaan pada suatu perusahaan secara umum adalah untuk memaksimalisasi nilai perusahaan. Dengan demikian apabila suatu saat perusahaan dijual maka harganya dapat ditetapkan setinggi mungkin.

Analisis Sumber Dana dan Penggunaannya

Analisis sumber dana atau analisis dana merupakan hal yang sangat penting bagi manajer keuangan. Analisis ini bermanfaat untuk mengetahui bagaimana dana digunakan dan asal perolehan dana tersebut. Suatu laporan yang menggambarkan asal sumber dana dan penggunaan dana. Alat analisa yang bisa digunakan untuk mengetahui kondisi dan prestasi keuangan perusahaan adalah analisa rasio dan proporsional.
Langkah pertama dalam analisis sumber dan penggunaan dana adalah laporan perubahan yang disusun atas dasar dua neraca untuk dua waktu. Laporan tersebut menggambarkan perubahan dari masing-masing elemen tersebut yang mencerminkan adanya sumber atau penggunaan dana.
Pada umumnya rasio keuangan yang dihitung bisa dikelompokkan menjadi enam jenis yaitu :
1.Rasio Likuiditas
Rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya
2. Rasio Leverage
Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak dana yang disupply oleh pemilik perusahaan dalam proporsinya dengan dana yang diperoleh dari kreditur perusahaan.
3. Rasio Aktivitas
Rasio ini digunakan untuk mengukur efektifitas manajemen dalam menggunakan sumber dayanya. Semua rasio aktifitas melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis harta.
4. Rasio Profitabilitas
Rasio ini digunakan untuk mengukur efektifitas manajemen yang dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan.
5. Rasio Pertumbuhan
Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa baik perusahaan mempertahankan posisi ekonominya pertumbuhan ekonomi dan industri.
6. Rasio Penilaian
Rasio ini merupakan ukuran prestasi perusahaan yang paling lengkap oleh karena rasio tersebut mencemirkan kombinasi pengaruh dari rasio risiko dengan rasio hasil pengembalian.

Pengertian Modal

Istilah “modal” biasa diartikan bermacam-macam, istilah modal dalam pembelanjaan perusahaan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : modal aktif dan modal pasif. Modal aktif merupakan kekayaan atau penggunaan dana, sedangkan modal pasif merupakan sumber dana.

Manajer Keuangan

Manajer Keuangan merupakan seseorang yang mempunyai hak dalam mengambil suatu keputusan yang sangat penting dalam suatu bidang investasi dan pembelanjaan perusahaan. Manajer keuangan juga bertanggung jawab dalam bidang keuangan pada suatu perusahaan.



Alokasi Dana Bank
Dana yang diperoleh sebuah bisnis perbankan perlu dialokasikan dengan tepat. Untuk itu diperlukan suatu kebijakan alokasi aktiva. Alokasi aktiva merupakan pendistribusian dana investasi yang didasarkan pada fungsi dan kegunaan diantara berbagai kategori aktiva, termasuk ekuivalen kas, saham, investasi pendapatan tetap, dan aktiva berwujud lainnya. Alokasi aktiva akan berdampak baik pada resiko maupun laba..

Jenis-Jenis Cadangan Bank
A. Cadangan Primer
Primary reserve diperlukan untuk memenuhi permintaan efektif dari para nasabah yang muncul secara tiba-tiba. Bahasa teknis perbankan dalam mewujudkan primary reserve ini adalah alat-alat yang dikuasai dan tercermin pada pos-pos aktiva, berupa : saldo kas dan saldo rekening pada Bank Indonesia.
B. Cadangan Sekunder
Cadangan sekunder digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas yang jangka waktunya kurang dari satu tahun yang sekaligus dimanfaatkan untuk mencari laba.utama, tetapi juga sebagai dana yang lincah bergerak dan ditanam dalam bentuk investasi jangka pendek dengan sifat-sifat yang tetap current.

fungsi dan manfaat bank bagi masyarakat


Latar belakang berdirinya pegadaian syari’ah yaitu bekerja sama dengan Bank Muamalat Indonesia. Karena Bank Muamalat Indonesia sendiri masih belum punya managemen skill dalam bidang ahli menaksir barang, adapun pegadaian sudah mempunyai ahli penaksir barang akan tetapi dananya sangat terbatas. Maka dari itu perlu adanya kerjasama antara pegadaian dengan bank dengan prinsip bagi hasil.
Sifat usaha pegadaian pada prinsipnya menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan

Manajemen Sumber Dana

Manajemen Sumber Dana

Pengertian sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun dana dari masyarakat perolehan ini tergantung pada bank itu sendiri, apakah dari simpanan masyarakat atau dari lembaga lainnya. Pemilihan sumber dana akan menentukan besar kecilnya biaya yang ditanggung.oleh karena itu pemiliha sumber dana harus dilakukan secara tepat.
Jenis Sumber Dana
Dana yang bersumber dari bank itu sendiri
Perolehan dana dari sumber bank itu sendiri (modal sendiri) maksudnya adalah dana yang diperoleh dari dana bank salah satu jenis dana yang bersumber dari bank itu sendiri adalah modal setor dari para pemegang saham.
Adapun pencarian dana yang bersumber dari bank itu sendiri terdiri dari:
Setoran modal dari pemegang saham yaitu merupakan modal dari para pemegang saham lama atau pemgang saham yang baru. Dana yang disetor secara efektif oleh para pemegang saham pada waktu bank berdiri. Pada umumnya modal setoran pertama dari pemilik bank sebagian digunakan untuk sarana perkantoran, pengadaan peralatan kantor dan promosi untuk menarik minat masyarakat.
Cadangan laba, yaitu merupakan laba yang setiap tahun di cadangkan oleh bank dan sementara waktu belum digunakan. Cadangan laba yaitu sebagian dari laba bank yang disisihkan dalam bentuk cadangan modal dan cadangan lainnya yang akan dipergunakan untuk menutupi timbulnya resiko di kemudian hari. Cadangan ini dapat diperbesar apabila bagian untuk cadangan tersebut ditingkatkan atau bank mampu meningkatkan labanya.
Laba bank yang belum di bagi, merupakan laba tahun berjalan tapi belum dibagikan kepada para pemegang saham.
Dana yang bersumber dari masyarakat luas
Sumber dana ini merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasi bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai operasinya dari sumber dana ini. Adapun Dana masyarakat adalah dana-dana yang berasal dari masyarakat, baik perorangan maupun badan usaha, yang diperoleh dari bank dengan menggunakan berbagai instrumen produk simpanan yang dimiliki oleh bank.
Untuk memperoleh dana dari masyarakat luas bank dapat menggunakan tiga macam jenis simpanan (rekening). Masing-masing jenis simpanan memiliki keunggulan tersendiri, sehingga bank harus pandai dalam menyiasati pemilihan sumber dana.
Dana yang bersumber dari lembaga lain
Dalam praktiknya sumber dana ini merupakan tambahan jika bank mengalami kesulitan dalam pencarian sumber dana sendiri dan masyarakat. Dana yang diperoleh dari sumber ini digunakan untuk membiayai atau membayar transaksi-transaksi tertentu.
Perolehan dana dari sumber ini antara lain dapat diperoleh dari:
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), merupakan kredit yang diberikan bank Indonesia kepda bnk-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Kredit likuiditas ini juga diberikan kepada pembiayaan sektor-sektor usaha tertentu.
Pinjaman antar bank (Call Money). Biasanya pinjaman ini di berikan kepada bank-bank yang mengalami kalah kliring di dalam lembaga kliring dan tidak mampu untuk membayar kekalahannya. Pinjaman ini bersifat jangka pendek dengan bunga yang relative tinggi jika dibandingkan dengan pinjaman lainnya.
Pinjaman dari bank-bank luar negeri. Merupakan pinjaman yang diperoleh oleh perbankan dari pihak luar negeri.

Jumat, 04 Maret 2011

Penilaian / Analisis Komponen Faktor CAMELS

Penilaian / Analisis Komponen Faktor CAMELS Maret 23, 2009

Filed under: Perbankan — dinitriwardani @ 7:34 am

Mata kuliah Banking hari ini kami membahas tentang peraturan BI mengenai Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian faktor permodalan ( capital ), kualitas asset ( asset Quality ), Manajemen ( Management ), Rentabilitas ( earnings ), Likuiditas ( Liquidity ), dan sensitivitas terhadap resiko pasar ( sensitivity to market risk ). Penilaian terhadap factor – factor tersebut dilakukan melalui penilaian kuantitas dan atau kualitatifnya setelah mempertimbangkan unsur judgement .Cara menilai kesehatan bank pada umumnya hampir sama dengan penilaian pajak. Di dalam penilaian tingkat kesehatan bank di buatlah suatu predikat/ rating yang tentunya sesuai dengan ketentuan surat edaran Bank Indonesia. Predikat/ rating tersebut dimulai dari 1,2,3,4 dan 5. Dimana, bank yang mendapat rating 1 berarti tingkat kesehatan bank tersebut sangat bagus, untuk rating 2 berarti tingkat kesehatan bank tersebut bagus, untuk rating 3 berarti tingkat kesehatan bank tersebut cukup bagus , sedangkan untuk rating 4 berarti tingkat kesehatan bank tersebut kurang bagus , dan untuk rating terakhir yaitu rating 5 berarti tingkat kesehatan bank tersebut tidak bagus

CAR dalam Bahasa Indonesia yaitu KPMM ( Kebutuhan penyediaan modal minimum ). Jika CAR semakin tinggi berarti semakin baik karena berarti semakin siap untuk mengambil resiko. Rasio perhitungan dalam sebuah bank semakin kecil berarti kualitas produk tersebut semakin baik.

Perhitungan aktiva produktif pada Modal yaitu ( Aktiva produktif yang diklasifikasikan : Modal ) , alasannya untuk mengetahui kemampuan modal dalam menghadapi aktiva produktif yang bermasalah.

Mengenai konsep debitur.semakin diversifikasi berarti semain banyak resikonya. Perhitungan aktiva produktif pada Asset Quality yaitu ( Aktiva produktif yang di klasifikasi : Aktiva produktif ). Ini untuk mengetahui kualitas aktiva produktif.

- Semakin kecil rata-rata kredit / debitur maka semakin baik kualitas assetnya ( rationya semakin rendah ).

- Semakin rendah rata-rata deposito yang dimiliki oleh setiap depositor maka likuiditas semakin baik.


http://dinitriwardani.wordpress.com/2009/03/23/penilaian-analisis-komponen-faktor-camels/

BMPK

BMPK Maret 30, 2009

Filed under: Perbankan — dinitriwardani @ 6:33 am

Paket kebijakan 15 April 2008 merespons banyak bank yang penyaluran kreditnya rendah. Sehingga investasi di Indonesia tidak bergerak, tetapi bank beralasan karena peraturan bank yang terlalu ketat, oleh karena itu akhirnya BI mengalah dengan malalui kelonggaran untuk pemberian pinjaman ke perusahaan publik yang akhirnya diberi batas sampai 30%, Atau BMPK( Batas Maximum Pemberian Kredit ) untuk perusahaan – perusahaan yang sudah go public karena perusahaan yang sudah go public lebih baik dari pada perusahaan – perusahaan yang belum go public dan batas minimumnya juga di taikkan. Salah satu tujuan dari paket kebijakan 15 april 2008 ialah untuk memajukan dan mendorong pertumbuhan usaha kecil. Bank bisa memberikan kredit lebih besar tanpa takut melanggar kebijakan. Setiap bank harus selalu merespons perubahan – perubahan terutama disituasi sekarang yang sedang mengalami krisis global. Apalagi sekarang – sekarang ini yang sedang di isukan adalah masalah kredit card.Kredit macet kredit card sudah tembus 10%. Berarti nilainya sudah 5 dan itu merupakan nilai teburuk, dan itu sebenarnya yang dapat memicu terjadinya krisis “ mudah-mudahan saja tidak sampai terjadi “ kita berdoa saja.

http://dinitriwardani.wordpress.com/2009/03/30/bmpk/

ISLAMIC BANK

ISLAMIC BANK Maret 30, 2009

Filed under: Perbankan — dinitriwardani @ 7:18 am

Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah ( hukum ) islam. Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalat Indonesia. Dalam bank syariah tidak mengenal sistem bunga tapi mereka menyebutnya bagi hasil.

Pada saat terjadi krisis di Indonesia tahun 1998 bank syariah tidak terkena dampak dari krisis tersebut karena nasabahnya loyal, jadi walaupun fluktuatif tapi long term nya stabil. Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah yaitu jasa untuk peminjam dana seperti mudhorobah ( perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha ), musyarokah, murobahah ( penyaluran dana dalam bentuk jual beli ), dan takaful ( asuransi islam ). Dan juga terdapat jasa untuk penyimpan dana seperti wadiah dan deposito mudhorobah. Keuntungan bank syariah tergantung dari perekonomian sektor riil karena keuntungan bank syariah akan meningkat jika kesejahteraan meningkat. Jika sektor perekonomian bertambah meningkat begitu pula halnya dengan bank syariah tetapi jika sektor perekonomian ambruk, maka bank syariah juga turut ambruk. Kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses layanan perbankan syariah dan ketersediaan produk investasi syariah tidak akan optimal tanpa promosi dan edukasi yang memadai tentang lembaga keuangan syariah. Untuk itu Amat dibutuhkan pula jaminan produk yang ditawarkan patuh terhadap prinsip syariah. Peluang dan potensi perbankan syariah yang besar memang menuntut kerja keras untuk kemaslahatan

http://dinitriwardani.wordpress.com/2009/03/30/islamic-bank/

ASURANSI

ASURANSI

Lembaga keuangan dalam dunia keuangan bertindak selaku lembaga yang menyediakan jasa keuangan bagi nasabahnya, dimana pada umumnya lembaga ini diatur oleh regulasi keuangan dari pemerintah. Di Indonesia lembaga keuangan ini dibagi kedalam 2 kelompok yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank. Salah satu lembaga keuangan non bank yaitu perusahaan asuransi.

Asuransi merupakan lembaga keuangan yang mengumpulkan dananya dalam bentuk premi. Perusahaan asuransi adalah perusahaan yang mencover resiko. Badan yang menyalurkan risiko disebut “tertanggung”, dan badan yang menerima resiko disebut “penanggung”. Biaya yang dibayar oleh “tetanggung” kepada “penanggung” untuk risiko yang ditanggung disebut “premi”. Ini biasanya ditentukan oleh “penanggung” untuk dana yang bisa diklaim di masa depan, biaya administratif, dan keuntungan. Penanggung menggunakan ilmu aktuaria untuk menghitung risiko yang mereka perkirakan. Ilmu aktuaria menggunakan matematika, terutama statistika dan probabilitas, yang dapat digunakan untuk melindungi risiko untuk memperkirakan klaim di kemudian hari dengan ketepatan yang dapat diandalkan. Perusahaan asuransi juga mendapatkan keuntungan investasi. Ini diperoleh dari investasi premi yang diterima sampai mereka harus membayar klaim. Uang ini disebut “float”. Penanggung bisa mendapatkan keuntungan atau kerugian dari harga perubahan float dan juga suku bunga atau deviden di float.
Asuransi ada 2 jenis menurut undang – undang yaitu Asuransi Sosial dan Asuransi Komersial. Asuransi sosial dijamin oleh undang-undang contohnya Jamsostek dan Jasa Raharja. Ciri khas dari asuransi sosial yaitu preminya yang relatif kecil dan benefitnya yang juga kecil. Sedangkan Asuransi komersial terdiri dari 2 jenis yaitu Asuransi Umum dan Asuransi jiwa. Asuransi umum itu kerugian misalnya asuransi kebakaran, kecelakaan dll. Asuransi tidak dapat dipinjamkan, boleh dipinjamkan hanya untuk mereka yang menggunakan polis. Asuransi lebih mementingkan solvabilitas karena asuransi sifatnya jangka panjang.


http://dinitriwardani.wordpress.com/2009/05/26/asuransi/

Tentang Perbankan

Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang usahanya memberikan kredit dan jasa – jasa. Bank mengumpulkan dana dari masyarakat yang surplus (kelebihan uang) dalam bentuk tabungan,deposito,atau giro dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit kemasyarakat minus(membutuhkan Uang). Prinsip kerja perbankan yaitu bagaimana cara menyelaraskan tangan kanan dan tangan kiri. Dimana yang dimaksud tangan kanan itu merupakan sumber dana yang terdiri dari tabungan,deposito,giro,dan modal dan tergolong dalam kelompok pasiva.dan kanan kiri merupakan penempatan dana dan tergolong dalam kelompok aktiva misalnya bank membeli surat berharga, menyimpan uang di bank lain,pinjaman, aktiva tetap,kas, dan giro pada BI. Pada bank terdapat istilah Kliring yaitu utang piutang antar Bank. Bank merupakan lembaga keuangan yamg paling mempengaruhi perekonomian. Karena apabila suku bunga naik maka inflasi akan turun tetapi sebaliknya jika suku bunga turun berakibat inflasi menjadi naik. Sebagai tempat untuk penitipan atau penyimpanan uang, bank memberikan selembar surat atau kertas dalam bentuk Tabungan,Deposito, dan Giro.

Tabungan yaitu simpanan di bank yang dapat diambil sewaktu-waktu dan bunganya dihitung secara harian. Deposito yaitu simpanan yang dititipkan di bank untuk jangka waktu tertentu misalnya 1,3,6,dan 12 bulan.Uang tersebut dapat dipergunakan kalo waktu yang ditetapkan telah tiba.jika seorang nasabah ingin mempergunakan uangnya yang di depositokan sebelum jatuh tempo maka akan dikenakan biaya tertentu. Simpanan berbentuk deposito mendapatkan bunga.Giro yaitu simpanan yang setiap saat dapat diminta kembali atau dipergunakan untuk melakukan pembayaran dengan menggunakan cek.kalau kita menyimpan uang dalam bentuk ini biasanya tidak mendapatkan bunga. Sebagai pemberi kredit Bank biasanya memanfaatkan Uang yang disimpan oleh nasabah pada bank tersebut untuk pihak yang memerlukan kredit, atau bank juga menggunakan uang tersebut untuk dibelikan surat-surat berharga yang dapat menghasilkan tingkat bunga,atau juga dapat digunakan untuk mendirikan anak perusahaan. Bank dapat memberikan kredit karena jarang sekali para nasabah beramai-ramai menarik tabungannya dalam waktu yang bersamaan jika hal itu terjadi bank tersebut akan mengalami kebangkrutan.

Seseorang yang memiliki rekening giro di bank dapat menulis chek sebagai perintah membayar kepada Bank.Dengan menunjukkan chek ini kepada bank, maka bank akan membayar sesuai denagn nilai yang tertulis didalam cek.bila si penerima chek telah menjadi nasabah bank tersebut,maka dia bisa memerintahkan bank untuk melakukan pemindahbukuan.Perintah mamindah uang menggunakan surat di sebut Bilyet Giro.jadi dapat menghindari adanya cek kosong.

Tujuan Perbankan di Indonesia diatur dalam pasal 4 UU No. 7 Tahun 1992. “Perbankan Indonesia bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka menigkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak”.
Jenis-jenis Perbankan di Indonesia diatur dalam Pasal 5 UU No. 7 Tahun 1992.
Dalam Pasal 5 ayat (1), berbunyi:
1. Bank Umum, adalah bank yang dapat memberikan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2. Bank Perkreditan Rakyat, adalah bank yang menerima simpanan dalam bentuk deposito berjangka dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Pasal 5 ayat (2): “Bank Umum dapat mengkhususkan diri untuk melaksanakan suatu kegiatan tertentu dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada kegiatan tertentu”.Jadi, dapat disimpulkan bahwa Perbankan di Indonesia hanya terdiri dari 2 jenis, yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan saja, sedangkan Bank Sentral hanya bertugas untuk menjaga kestabilan moneter dan melakukan pengawasan dan pembinaan bank.


http://dinitriwardani.wordpress.com/perbankan/

Rabu, 29 Desember 2010

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DAN SIM

Pada masa sekarang, sistem informasi (SI) telah mengubah cara

perusahaan melakukan bisnis yang mengakibatkan banyak hal-hal baru terjadi
dalam suatu organisasi. Hal ini dapat dilihat dari perubahan yang ada di sekitar
kita, misalnya fasilitas ATM yang disediakan oleh perusahaan perbankan, fasilitas
CD-ROM yang umumnya terdapat di perpustakaan, scanner yang terdapat di tokotoko
swalayan, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa peranan SI menjadi
semakin meningkat mengikuti perkembangan teknologi informasi.
Secara tradisional, manajemen dan akademisi memandang peranan SI
sebagai fungsi pendukung dalam operasi perusahaan. Pandangan mereka ini
sesuai dengan definisi awal SI. Sebagai contoh, Ein-Dor dan Segev (1978), Ives et
al. (1980) mendefinisikan SI sebagai fungsi pendukung dalam melaksanakan
aktivitas dan fungsi manajemen.
Saat ini, manajemen dan akademisi memandang peranan SI sebagai
enabler bagi perusahaan untuk memperoleh keunggulan kompetitif. Sistem
informasi mampu mengubah bentuk organisasi, mampu mengubah cara
perusahaan dalam beroperasi, dan mampu mengubah cara perusahaan dalam
bersaing (Alter 1996, hal. 191-193). Informasi, sekarang dilihat sebagai sumber
daya stratejik, sumber yang potensil untuk mendapatkan keunggulan dalam
bersaing (Raghunathan dan Raghunathan 1990, Laudon dan Laudon 1991, hal.
72) atau sebagai senjata stratejik untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam
iklim bisnis yang baru (Ives dan Learmonth 1984). Hal ini menunjukkan bahwa SI
memainkan berbagai peran dalam organisasi.
McFarlan et al. (1983) menggunakan strategic grid sebagai rerangka untuk
menjelaskan peranan SI yang berbeda-beda di dalam organisasi. Dalam rerangka
tersebut, mereka mengklasifikasikan organisasi ke dalam empat lingkungan SI,
yaitu strategic, turnaround, factory, dan support. Mereka menekankan perlunya
menyesuaikan perencanaan SI dengan peranan yang dimainkan SI dalam
organisasi, karena suatu organisasi tidak dapat mencapai dampak stratejik jika
mengfokuskan perencanaan SI pada masalah operasional. Di samping itu, suatu
organisasi akan mengalami pemborosan sumber daya jika penggunaan sistem
informasi tidak sesuai dengan perencanaan bisnis perusahaan. Perencanaan SI
perlu direncanakan seperti sumber daya lainnya (misalnya kapital, material, dan
2
personil) agar penggunaannya efektif dan efisien (Zviran 1990). Dengan demikian,
perencanaan SI yang disesuaikan dengan peranan SI dalam organisasi merupakan
topik yang menarik dan penting dalam penelitian-penelitian SI (Raghunathan dan
Raghunathan 1990, Cash et al. 1992, dan Premkumar dan King 1992).
Penelitian secara empiris menggunakan rerangka strategic grid dan
hubungannya dengan perencanaan SI telah dilakukan oleh Raghunathan dan
Raghunathan (1990), Premkumar dan King (1992) di Amerika, dan di Indonesia
dilakukan oleh Hartawan (1996). Penelitian-penelitian ini dijelaskan lebih terperinci
pada telaah literatur. Berdasarkan penelitian-penelitian mereka, peneliti ingin
mengetahui peranan apa yang dimainkan SI dalam organisasi dan apakah terdapat
perbedaan perencanaan SI di antara organisasi yang mempunyai peranan SI yang
berbeda-beda. Karena itu, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengevaluasi peranan yang dimainkan SI dalam organisasi dengan
menggunakan rerangka strategic grid.
2. Untuk memberi bukti empiris mengenai adanya perbedaan perencanaan SI di
antara organisasi yang mempunyai peranan SI yang berbeda-beda dalam
kuadran strategic grid.
TELAAH LITERATUR
Peranan Sistem Informasi
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, secara intensif telah
didiskusikan dalam literatur-literatur SI (McFarlan et al. 1983, Nolan 1979) bahwa SI
mempunyai peranan yang berbeda-beda di antara organisasi. Nolan (1979)
mengemukakan bahwa fungsi SI mengalami enam langkah pertumbuhan dan
dalam setiap langkah tersebut organisasi menggunakan SI dengan cara yang
berbeda-beda. Demikian pula halnya dengan McFarlan et al. (1983) menemukan
bahwa dalam beberapa organisasi SI berperan di daerah stratejik, sementara
organisasi lainnya SI berperan sebagai efisiensi biaya. Berdasarkan penemuan ini,
McFarlan et al. (1983) mengembangkan strategic grid sebagai peranan SI dalam
suatu organisasi dengan membagi organisasi dalam dua dimensi, yaitu dampak
stratejik SI pada operasi saat ini dan dampak stratejik SI pada operasi masa yang
akan datang, seperti terlihat pada Gambar 2.1.
3
Dampak stratejik SI saat ini
Tinggi Rendah
Tinggi Strategic Turnaround
Dampak
stratejik SI
masa yang
akan datang
Rendah Factory Support
Gambar 2.1. Strategic grid
____________
Sumber: McFarlan et al. (1983, 150)
Dalam rerangka strategic grid, organisasi diklasifikasikan ke dalam empat
lingkungan SI, yaitu strategic, turnaround, factory, dan support. Organisasi dalam
kelompok strategic, sangat bergantung pada kelancaran fungsi SI untuk operasi
sehari-hari dan juga penting bagi kesuksesan organisasi dalam bersaing.
Organisasi dalam kelompok turnaround, kurang bergantung pada dukungan SI
untuk operasi perusahaan saat ini, tetapi SI dikembangkan untuk kepentingan
tujuan strategis jangka panjang. Organisasi dalam kelompok factory, sangat
bergantung pada fungsi SI untuk operasi sehari-hari, tetapi pengembangan aplikasi
untuk masa yang akan datang kurang menjadi pertimbangan utama. Organisasi
dalam kelompok support, kurang bergantung terhadap SI untuk operasi saat ini dan
juga untuk operasi masa yang akan datang.
Perencanaan Sistem Informasi
Perhatian yang semakin meningkat akan dampak stratejik SI terhadap bisnis
perusahaan membuat penelitian pada perencanaan SI penting dalam bidang SI
(Boynton dan Zmud 1987). Investasi yang besar dalam SI membuat perencanaan
SI menjadi masalah kunci bagi manajemen (Niederman et al. 1991). Hal ini
4
menunjukkan bahwa perencanaan SI menjadi hal yang penting dalam organisasi
secara keseluruhan jika ingin memperoleh keunggulan kompetitif.
Studi empiris mengenai perencanaan SI menunjukkan bahwa perencanaan
SI dipengaruhi oleh berbagai faktor (Lederer dan Sethi 1996). Berbagai faktor
seperti kualitas proses perencanaan, rentang waktu perencanaan, sumber-sumber
perencanaan SI, integrasi bisnis-SI, kualitas mekanisme pendukung, keterlibatan
manajemen puncak dan pemakai, sumber-sumber SI, efektifitas perencanaan,
kinerja fungsi SI, dan kontribusi SI terhadap kinerja organisasional ditemukan
mempengaruhi perencanaan SI (Cash et al. 1992, Ein-Dor dan Segev 1978,
Goodhue et al. 1988, King 1988, Lederer dan Mendelow 1986, 1987, Lederer dan
Sethi 1988, McFarlan et al. 1983, Raghunathan dan Raghunathan 1988, dan Zviran
1990). Premkumar dan King (1992) menggolong-golongkan berbagai faktor
perencanaan SI tersebut ke dalam tiga karakteristik, yaitu karakteristik
perencanaan, karakteristik organisasional, dan karakteristik kinerja.
Inti dari perencanaan SI adalah proses perencanaan yang mengevaluasi
lingkungan eksternal dan internal SI, mengidentifikasi sistem aplikasi yang baru,
dan mengembangkan sekumpulan perencanaan SI stratejik untuk mendukung
perencanaan bisnis organisasi. Tujuan utama perencanaan SI adalah untuk
menyelaraskan perencanaan SI dengan perencanaan bisnis (Zviran 1990).
Namun, Lederer dan Mendelow (1986) menemukan bahwa dalam banyak
organisasi perencanaan bisnis stratejik tidak jelas, atau tidak secara jelas
didokumentasikan, atau tidak berisi informasi yang relevan yang dapat digunakan
dalam perencanaan SI. Karena itu, organisasi dalam merencanakan SI sering
menggunakan berbagai mekanisme pendukung, seperti partisipasi manajer SI
dalam perencanaan bisnis stratejik perusahaan untuk mengintegrasikan kedua
sistem perencanaan tersebut (Lederer dan Mendelow 1987). Keterlibatan
manajemen puncak dan pemakai juga merupakan fasilitator yang penting dalam
perencanaan SI (Lederer dan Mendelow 1987).
Kecukupan sumber-sumber perencanaan merupakan fokus perhatian dalam
karakteristik perencanaan SI. Lederer dan Sethi (1988) menemukan bahwa
ketersediaan sumber-sumber perencanaan menjadi masalah yang serius dalam
perencanaan SI. Goodhue et al. (1988) menemukan bahwa pengalokasian
5
sumber-sumber yang tersedia untuk implementasi perencanaan juga merupakan
masalah yang signifikan yang mempengaruhi efektivitas sistem perencanaan.
Investasi yang besar dalam SI dan penggunaan SI sebagai sumber daya
stratejik membawa dimensi kinerja ke dalam karakteristik perencanaan SI (Clemons
dan Weber 1990, dan Weill dan Olson 1989). Pengukuran kinerja menjadi subjek
penelitian yang dipertimbangkan dalam perencanaan SI stratejik (Weill dan Olson
1989). Untuk membuktikan keandalan perencanaan, maka perlu untuk mengukur
efektifitas perencanaan dan dampaknya terhadap organisasi (King 1988). Namun,
hanya sedikit penelitian yang mengevaluasi hubungan investasi TI dengan kinerja
organisasional (pertumbuhan penjualan, return on assets, dll) yang hasilnya
memuaskan (Weill dan Olson 1989, Floyd dan Wooldridge 1990). Peneliti lebih
berhasil menggunakan pengukuran perseptual dari penyelesaian perencanaan
sebagai pengukuran efektifitas perencanaan (Raghunathan dan Raghunathan
1991).
Peranan SI dan Perencanaan SI Dalam Organisasi
Raghunathan dan Raghunathan (1990) melakukan penelitian mengenai
implikasi perencanaan dari SI strategic grid. Mereka menginvestigasi sifat kontijen
dari enam variabel perencanaan SI dalam konteks relevansi stratejik SI suatu
organisasi. Mereka mengidentifikasi perbedaan perencanaan SI untuk setiap
kuadran dalam strategic grid terhadap 187 organisasi yang menjadi responden
dalam penelitian mereka. Dengan menggunakan ANOVA, hasil penelitian mereka
mengkonfirmasikan beberapa prediksi dari McFarlan et al. (1983) yang
menunjukkan bahwa secara umum terdapat dukungan empiris untuk rerangka
strategic grid dan terdapat perbedaan dalam aspek perencanaan di antara
organisasi, tergantung pada lingkungan SI organisasi tersebut dalam strategic grid.
Raghunathan dan Raghunathan (1990) juga melakukan analisis lebih lanjut
mengenai hasil penelitian mereka yang menunjukkan bahwa perbedaan tersebut
lebih jelas untuk dimensi masa yang akan datang daripada untuk dimensi saat ini.
Interpretasi mereka mengenai ini bahwa jika kita melakukan penelitian mengenai
perencanaan, sifat kontijen dari perencanaan lebih baik ditekankan dalam
lingkungan SI masa yang akan datang daripada dalam lingkungan SI saat ini.
Dalam rerangka strategic grid, lingkungan SI strategic dan turnaround (yang
6
mempunyai dampak stratejik yang tinggi pada dimensi masa yang akan datang)
kemungkinan sama satu sama lain dan berbeda dari dua lingkungan lainnya
(support dan factory). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan seharusnya lebih
jelas antara tinggi dan rendah dimensi masa yang akan datang daripada antara
tinggi dan rendah dimensi saat ini.
Hasil penelitian mereka juga menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata untuk
semua aspek perencanaan lebih besar pada kuadran strategic dan support.
Karena itu, mereka juga melakukan uji-t untuk membuktikan perbedaan kedua
kuadran tersebut dilihat dari aspek perencanaan SI dan hasilnya secara signifikan
menunjukkan perbedaan tersebut. Implikasi penelitian mereka menekankan pada
sifat kontijen perencanaan SI dan kebutuhan untuk menyesuaikan aspek
perencanaan SI dengan peranan SI dalam organisasi.
Premkumar dan King (1992) memperluas penelitian yang telah dilakukan
oleh Raghunathan dan Raghunathan (1990). Mereka menambahkan 7 variabel
perencanaan SI, menggabungkan 2 variabel perencanaan SI, dan membuang satu
variabel perencanaan SI sehingga menjadi 11 variabel perencanaan SI yang
dibaginya ke dalam tiga karakteristik, yaitu karakteristik perencanaan, karakteristik
organisasional, karakteristik kinerja perencanaan. Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Raghunathan dan Raghunathan (1990), Premkumar dan King
(1992) menggabungkan kuadran strategic dengan turnaround dan kuadran support
dengan factory dalam menganalisis data. Mereka menggunakan t-test dan chisquare
dalam melakukan analisis terhadap 249 sampel dan hasilnya menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam karakteristik perencanaan,
organisasional, dan kinerja dari perencanaan SI di antara organisasi yang
mempunyai peranan SI yang berbeda-beda. Karakteristik perencanaan dan
organisasional secara umum sesuai dengan prediksi implisit dalam strategic grid.
Karena itu, penelitian ini memberi validasi parsial pada strategic grid sebagai alat
untuk mengevaluasi peranan SI di dalam organisasi. Sedangkan karakteristik
kinerja perencanaan SI untuk variabel kinerja fungsi SI belum didukung oleh data.
Kedua penelitian yang diuraikan di atas merupakan penelitian yang
dilakukan di Amerika. Untuk situasi di Indonesia, penelitian serupa telah dilakukan
oleh Hartawan (1996) dengan mendasarkan pada penelitian yang dilakukan
Premkumar dan King (1992). Kuesioner yang digunakannya untuk pengumpulan
7
data penelitian merupakan kuesioner yang dikembangkan oleh Premkumar dan
King (1992) dan menganalisis sebanyak tiga puluh sembilan sampel. Alat analisis
yang digunakan adalah uji-t dan chi-square untuk mengevaluasi beda rata-rata
organisasi dari tiga karakteristik sistem perencanaan SI (perencanaan,
organisasional, dan kinerja perencanaan) pada rerangka strategic grid. Hasilnya
menunjukkan bahwa karakteristik perencanaan untuk variabel sumber-sumber
perencanaan SI tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok
strategic/turnaround dengan kelompok support/factory, yang berarti tidak
mendukung hasil penelitian Premkumar dan King (1992); sedangkan untuk
karakteristik organisasional mendukung penelitian Premkumar dan King (1992)
yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok
strategic/turnaround dengan kelompok support/factory. Karakteristik kinerja untuk
semua variabel menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok
strategic/turnaround dengan kelompok support/factory.

http://naocta.wordpress.com/2009/12/31/sistem-informasi-akuntansi-dan-sim/

Akuntansi Manajemen Publik

Definisi akuntansi manajemen menurut Chartered Institute of Management Accountant (1994:3

Rata Penuh0) yaitu: Penyatuan bagian manajemen yang mencakup, penyajian dan penafsiran informasi yang digunakan untuk perumusan strategi, aktivitas perencanaan dan pengendalian, pembuatan keputusan, optimalisasi penggunaan sumber daya, pengungkapan kepada pemilik dan pihak luar, pengungkapan kepada pekerja, pengamanan asset…

Bagian integral dari manajemen yang berkaitan dengan proses identifikasi penyajian dan interpretasi/penafsiran atas informasi yang berguna untuk:
· Merumuskan strategi.
· Proses perencanaan dan pengendalian.
· Pengambilan keputusan.
· Optimalisasi keputusan.
· Pengungkapan pemegang saham dan pihak luar.
· Pengungkapan entitas organisasi bagi karyawan.
· Perlindungan atas asset organisasi.

Sejarah Perkembangan Akuntansi Manajemen Sektor Publik
Akuntansi sektor publik pada dasarnya dipengaruhi perkembangan pemikiran manajemen. Perkembangan pemikiran ini tidak terlepas dari knowledge management.
Knowledge management ini sendiri mempengaruhi peran daripada akuntansi manajemen. Pada dasarnya, akuntansi manajemen ini lebih didasari oleh praktik:
· Factory Accounting.
· Budgeting.
· Cost Accounting.

Proses Akuntansi Manajemen
Proses akuntansi manajemen dapat dikembangkan dengan berbagai metode, antara lain:
· Flatening struktur manajemen merupakan proses penyederhanaan struktur.
· Menggunakan cross fungsional team merupakan proses saling isi menurut keahlian dan kekuatan antara tim yang terlibat.
· Menyampaikan informasi secara cepat dan tepat merupakan teknik penyaringan informasi yang relevan.
· Pendelegasian kuasa kepada tenaga kerja merupakan teknik pengembangan kekuatan tim melalui pemberian kepercayaan.

Peran dan Tujuan Akuntansi Manajemen Sektor Publik
Peran utama akuntansi manajemen dalam organisasi sektor publik adalah memberikan informasi akuntansi yang relevan dan handal kepada manajer untuk melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi. Tuntutan mengenai perlunya pengendalian atas berbagai kegiatan pemerintah, khususnya yang berimplikasi uang, dari waktu ke waktu semakin meningkat. Hal ini terjadi akibat praktik KKN di waktu yang lalu tidak saja telah mengakibatkan berkurangnya percepatan pembangunan, melainkan juga telah menimbulkan kesenjangan baik antara wilayah, sektor dan golongan serta merugikan khususnya bagi lapisan masyarakat bawah.

Peran fundamental akuntansi manajemen di organisasi sektor publik adalah membantu manajer/pimpinan dengan informasi akuntansi yang dibutuhkan agar fungsi perencanaan dan pengendalian dapat dilakukan. Secara rinci, tujuan umum tersebut dapat diturunkan menjadi:
· Membantu manajemen memformulasi kebijakan organisasi.
· Membantu manajemen dalam proses perencanaan organisasi.
· Membantu manajemen dalam mengendalikan operasi/kegiatan organisasi.

Peran Akuntan Dalam Sistem Informasi Akuntansi.

Dimanakah seorang akuntan dapat bekerja? Akuntan sebagai salah satu profesi dapat bekerja di suatu perusahaan swasta maupun di pemerintahan atau mendirikan suatu perusahaan. Jika akuntan mendirikan perusahaan, akuntan tersebut disebut akuntan publik (public accountant) yang pekerjaannya adalah mengaudit laporan keuangan perusahaan sebagai pihak yang independen dan hasilnya berupa pendapat atas laporan keuangan tersebut. Jika bekerja di dalam perusahaan swasta/pemerintahan, akuntan tersebut disebut akuntan pribadi (private accountant).

Pekerjaan/tugas/fungsi yang dapat dilakukan oleh seorang akuntan di dalam suatu perusahaan adalah sebagai:

  • Controller

  • Treasurer (bendaharawan)

  • Tax specialist (spesialis pajak)

  • Financial Analyst (analis keuangan)

  • Cost accountant (akuntan biaya)

  • General accountant (akuntan umum)

  • Information systems (sistem informasi)

  • Budgeting specialist (spesialis anggaran)

  • Internal auditor (pemeriksa internal)

Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah subsistem dari sistem informasi yang bertujuan untuk mengumpulkan, memproses, dan melaporkan informasi keuangan dari kejadian bisnis (Gelinas et. al., 2004, p.15). Informasi ini dikomunikasikan kepada berbagai pihak pengambil keputusan.

Apakah peran yang dimainkan seorang akuntan dalam SIA? Tiga peran akuntan dalam SIA adalah sebagai user, designer, dan auditor. Sebagai user atau pemakai sistem, akuntan harus bisa memastikan bahwa sistem baru berisi ciri-ciri (features) yang dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan/tugas/fungsinya dalam organisasi. Dengan kata lain, para akuntan harus memberikan gambaran yang jelas tentang kebutuhan mereka kepada para profesional/spesialis sistem yang merancang sistem mereka. Karena itu, akuntan sebagai pemakai sistem harus mengetahui bagaimana sistem dikembangkan, teknik-teknik yang digunakan dalam pengembangan sistem, dan teknologi yang akan digunakan dalam sistem yang baru.

Salah satu faktor keberhasilan/kesuksesan dalam perancangan suatu sistem informasi adalah dengan melibatkan pemakai sistem tersebut. Akuntan sebagai pemakai sistem informasi akuntansi harus dilibatkan dalam perancangan sistem karena akuntan mempunyai pengetahuan mengenai prinsip-prinsip akuntansi, prinsip-prinsip pengauditan, teknik-teknik sistem informasi, dan metode pengembangan sistem. Perancangan sistem merupakan upaya kolaborasi antara akuntan dengan profesional/spesialis sistem. Akuntan bertanggung jawab untuk sistem konseptualnya sedangkan profesional/spesialis sistem bertanggung jawab untuk sistem fisiknya. Sebagai contoh: manajer departemen kredit akan membutuhkan informasi mengenai kredit para pelanggan untuk mendukung keputusan yang akan dibuatnya. Akuntan menentukan hakikat informasi yang diperlukan, sumber-sumbernya, tujuannya, dan peraturan akuntansi yang perlu diterapkan. Profesional/spesialis sistem menentukan teknologi yang paling ekonomis dan efektif untuk mendapatkan, memproses dan menghasilkan informasi tersebut.

Informasi dari laporan yang dihasilkan SIA harus sesuai dengan kualitas suatu informasi. Salah satunya adalah keandalan data SIA yang akan menghasilkan laporan keuangan tersebut. Baik auditor internal maupun auditor eksternal/public accountant melakukan pengauditan SIA untuk menyediakan kepastian (assurance) mengenai informasi yang terkandung pada laporan keuangan tersebut. Akuntan sebagai auditor perlu mengetes sistem kontrolnya, menilai efisensi dan efektifitas sistem, dan berpartisipasi dalam proses pengembangan sistem. Agar lebih efektif melakukan pekerjaannya, auditor harus memiliki pengetahuan teknik pengembangan sistem, pengendalian, teknologi yang digunakan, dan perancangan dan pengoperasian SIA.

http://gracetpontoh.wordpress.com/perkuliahan/#comment-203

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DAN SIM

Pada masa sekarang, sistem informasi (SI) telah mengubah cara

perusahaan melakukan bisnis yang mengakibatkan banyak hal-hal baru terjadi
dalam suatu organisasi. Hal ini dapat dilihat dari perubahan yang ada di sekitar
kita, misalnya fasilitas ATM yang disediakan oleh perusahaan perbankan, fasilitas
CD-ROM yang umumnya terdapat di perpustakaan, scanner yang terdapat di tokotoko
swalayan, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa peranan SI menjadi
semakin meningkat mengikuti perkembangan teknologi informasi.
Secara tradisional, manajemen dan akademisi memandang peranan SI
sebagai fungsi pendukung dalam operasi perusahaan. Pandangan mereka ini
sesuai dengan definisi awal SI. Sebagai contoh, Ein-Dor dan Segev (1978), Ives et
al. (1980) mendefinisikan SI sebagai fungsi pendukung dalam melaksanakan
aktivitas dan fungsi manajemen.
Saat ini, manajemen dan akademisi memandang peranan SI sebagai
enabler bagi perusahaan untuk memperoleh keunggulan kompetitif. Sistem
informasi mampu mengubah bentuk organisasi, mampu mengubah cara
perusahaan dalam beroperasi, dan mampu mengubah cara perusahaan dalam
bersaing (Alter 1996, hal. 191-193). Informasi, sekarang dilihat sebagai sumber
daya stratejik, sumber yang potensil untuk mendapatkan keunggulan dalam
bersaing (Raghunathan dan Raghunathan 1990, Laudon dan Laudon 1991, hal.
72) atau sebagai senjata stratejik untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam
iklim bisnis yang baru (Ives dan Learmonth 1984). Hal ini menunjukkan bahwa SI
memainkan berbagai peran dalam organisasi.
McFarlan et al. (1983) menggunakan strategic grid sebagai rerangka untuk
menjelaskan peranan SI yang berbeda-beda di dalam organisasi. Dalam rerangka
tersebut, mereka mengklasifikasikan organisasi ke dalam empat lingkungan SI,
yaitu strategic, turnaround, factory, dan support. Mereka menekankan perlunya
menyesuaikan perencanaan SI dengan peranan yang dimainkan SI dalam
organisasi, karena suatu organisasi tidak dapat mencapai dampak stratejik jika
mengfokuskan perencanaan SI pada masalah operasional. Di samping itu, suatu
organisasi akan mengalami pemborosan sumber daya jika penggunaan sistem
informasi tidak sesuai dengan perencanaan bisnis perusahaan. Perencanaan SI
perlu direncanakan seperti sumber daya lainnya (misalnya kapital, material, dan
2
personil) agar penggunaannya efektif dan efisien (Zviran 1990). Dengan demikian,
perencanaan SI yang disesuaikan dengan peranan SI dalam organisasi merupakan
topik yang menarik dan penting dalam penelitian-penelitian SI (Raghunathan dan
Raghunathan 1990, Cash et al. 1992, dan Premkumar dan King 1992).
Penelitian secara empiris menggunakan rerangka strategic grid dan
hubungannya dengan perencanaan SI telah dilakukan oleh Raghunathan dan
Raghunathan (1990), Premkumar dan King (1992) di Amerika, dan di Indonesia
dilakukan oleh Hartawan (1996). Penelitian-penelitian ini dijelaskan lebih terperinci
pada telaah literatur. Berdasarkan penelitian-penelitian mereka, peneliti ingin
mengetahui peranan apa yang dimainkan SI dalam organisasi dan apakah terdapat
perbedaan perencanaan SI di antara organisasi yang mempunyai peranan SI yang
berbeda-beda. Karena itu, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengevaluasi peranan yang dimainkan SI dalam organisasi dengan
menggunakan rerangka strategic grid.
2. Untuk memberi bukti empiris mengenai adanya perbedaan perencanaan SI di
antara organisasi yang mempunyai peranan SI yang berbeda-beda dalam
kuadran strategic grid.
TELAAH LITERATUR
Peranan Sistem Informasi
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, secara intensif telah
didiskusikan dalam literatur-literatur SI (McFarlan et al. 1983, Nolan 1979) bahwa SI
mempunyai peranan yang berbeda-beda di antara organisasi. Nolan (1979)
mengemukakan bahwa fungsi SI mengalami enam langkah pertumbuhan dan
dalam setiap langkah tersebut organisasi menggunakan SI dengan cara yang
berbeda-beda. Demikian pula halnya dengan McFarlan et al. (1983) menemukan
bahwa dalam beberapa organisasi SI berperan di daerah stratejik, sementara
organisasi lainnya SI berperan sebagai efisiensi biaya. Berdasarkan penemuan ini,
McFarlan et al. (1983) mengembangkan strategic grid sebagai peranan SI dalam
suatu organisasi dengan membagi organisasi dalam dua dimensi, yaitu dampak
stratejik SI pada operasi saat ini dan dampak stratejik SI pada operasi masa yang
akan datang, seperti terlihat pada Gambar 2.1.
3
Dampak stratejik SI saat ini
Tinggi Rendah
Tinggi Strategic Turnaround
Dampak
stratejik SI
masa yang
akan datang
Rendah Factory Support
Gambar 2.1. Strategic grid
____________
Sumber: McFarlan et al. (1983, 150)
Dalam rerangka strategic grid, organisasi diklasifikasikan ke dalam empat
lingkungan SI, yaitu strategic, turnaround, factory, dan support. Organisasi dalam
kelompok strategic, sangat bergantung pada kelancaran fungsi SI untuk operasi
sehari-hari dan juga penting bagi kesuksesan organisasi dalam bersaing.
Organisasi dalam kelompok turnaround, kurang bergantung pada dukungan SI
untuk operasi perusahaan saat ini, tetapi SI dikembangkan untuk kepentingan
tujuan strategis jangka panjang. Organisasi dalam kelompok factory, sangat
bergantung pada fungsi SI untuk operasi sehari-hari, tetapi pengembangan aplikasi
untuk masa yang akan datang kurang menjadi pertimbangan utama. Organisasi
dalam kelompok support, kurang bergantung terhadap SI untuk operasi saat ini dan
juga untuk operasi masa yang akan datang.
Perencanaan Sistem Informasi
Perhatian yang semakin meningkat akan dampak stratejik SI terhadap bisnis
perusahaan membuat penelitian pada perencanaan SI penting dalam bidang SI
(Boynton dan Zmud 1987). Investasi yang besar dalam SI membuat perencanaan
SI menjadi masalah kunci bagi manajemen (Niederman et al. 1991). Hal ini
4
menunjukkan bahwa perencanaan SI menjadi hal yang penting dalam organisasi
secara keseluruhan jika ingin memperoleh keunggulan kompetitif.
Studi empiris mengenai perencanaan SI menunjukkan bahwa perencanaan
SI dipengaruhi oleh berbagai faktor (Lederer dan Sethi 1996). Berbagai faktor
seperti kualitas proses perencanaan, rentang waktu perencanaan, sumber-sumber
perencanaan SI, integrasi bisnis-SI, kualitas mekanisme pendukung, keterlibatan
manajemen puncak dan pemakai, sumber-sumber SI, efektifitas perencanaan,
kinerja fungsi SI, dan kontribusi SI terhadap kinerja organisasional ditemukan
mempengaruhi perencanaan SI (Cash et al. 1992, Ein-Dor dan Segev 1978,
Goodhue et al. 1988, King 1988, Lederer dan Mendelow 1986, 1987, Lederer dan
Sethi 1988, McFarlan et al. 1983, Raghunathan dan Raghunathan 1988, dan Zviran
1990). Premkumar dan King (1992) menggolong-golongkan berbagai faktor
perencanaan SI tersebut ke dalam tiga karakteristik, yaitu karakteristik
perencanaan, karakteristik organisasional, dan karakteristik kinerja.
Inti dari perencanaan SI adalah proses perencanaan yang mengevaluasi
lingkungan eksternal dan internal SI, mengidentifikasi sistem aplikasi yang baru,
dan mengembangkan sekumpulan perencanaan SI stratejik untuk mendukung
perencanaan bisnis organisasi. Tujuan utama perencanaan SI adalah untuk
menyelaraskan perencanaan SI dengan perencanaan bisnis (Zviran 1990).
Namun, Lederer dan Mendelow (1986) menemukan bahwa dalam banyak
organisasi perencanaan bisnis stratejik tidak jelas, atau tidak secara jelas
didokumentasikan, atau tidak berisi informasi yang relevan yang dapat digunakan
dalam perencanaan SI. Karena itu, organisasi dalam merencanakan SI sering
menggunakan berbagai mekanisme pendukung, seperti partisipasi manajer SI
dalam perencanaan bisnis stratejik perusahaan untuk mengintegrasikan kedua
sistem perencanaan tersebut (Lederer dan Mendelow 1987). Keterlibatan
manajemen puncak dan pemakai juga merupakan fasilitator yang penting dalam
perencanaan SI (Lederer dan Mendelow 1987).
Kecukupan sumber-sumber perencanaan merupakan fokus perhatian dalam
karakteristik perencanaan SI. Lederer dan Sethi (1988) menemukan bahwa
ketersediaan sumber-sumber perencanaan menjadi masalah yang serius dalam
perencanaan SI. Goodhue et al. (1988) menemukan bahwa pengalokasian
5
sumber-sumber yang tersedia untuk implementasi perencanaan juga merupakan
masalah yang signifikan yang mempengaruhi efektivitas sistem perencanaan.
Investasi yang besar dalam SI dan penggunaan SI sebagai sumber daya
stratejik membawa dimensi kinerja ke dalam karakteristik perencanaan SI (Clemons
dan Weber 1990, dan Weill dan Olson 1989). Pengukuran kinerja menjadi subjek
penelitian yang dipertimbangkan dalam perencanaan SI stratejik (Weill dan Olson
1989). Untuk membuktikan keandalan perencanaan, maka perlu untuk mengukur
efektifitas perencanaan dan dampaknya terhadap organisasi (King 1988). Namun,
hanya sedikit penelitian yang mengevaluasi hubungan investasi TI dengan kinerja
organisasional (pertumbuhan penjualan, return on assets, dll) yang hasilnya
memuaskan (Weill dan Olson 1989, Floyd dan Wooldridge 1990). Peneliti lebih
berhasil menggunakan pengukuran perseptual dari penyelesaian perencanaan
sebagai pengukuran efektifitas perencanaan (Raghunathan dan Raghunathan
1991).
Peranan SI dan Perencanaan SI Dalam Organisasi
Raghunathan dan Raghunathan (1990) melakukan penelitian mengenai
implikasi perencanaan dari SI strategic grid. Mereka menginvestigasi sifat kontijen
dari enam variabel perencanaan SI dalam konteks relevansi stratejik SI suatu
organisasi. Mereka mengidentifikasi perbedaan perencanaan SI untuk setiap
kuadran dalam strategic grid terhadap 187 organisasi yang menjadi responden
dalam penelitian mereka. Dengan menggunakan ANOVA, hasil penelitian mereka
mengkonfirmasikan beberapa prediksi dari McFarlan et al. (1983) yang
menunjukkan bahwa secara umum terdapat dukungan empiris untuk rerangka
strategic grid dan terdapat perbedaan dalam aspek perencanaan di antara
organisasi, tergantung pada lingkungan SI organisasi tersebut dalam strategic grid.
Raghunathan dan Raghunathan (1990) juga melakukan analisis lebih lanjut
mengenai hasil penelitian mereka yang menunjukkan bahwa perbedaan tersebut
lebih jelas untuk dimensi masa yang akan datang daripada untuk dimensi saat ini.
Interpretasi mereka mengenai ini bahwa jika kita melakukan penelitian mengenai
perencanaan, sifat kontijen dari perencanaan lebih baik ditekankan dalam
lingkungan SI masa yang akan datang daripada dalam lingkungan SI saat ini.
Dalam rerangka strategic grid, lingkungan SI strategic dan turnaround (yang
6
mempunyai dampak stratejik yang tinggi pada dimensi masa yang akan datang)
kemungkinan sama satu sama lain dan berbeda dari dua lingkungan lainnya
(support dan factory). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan seharusnya lebih
jelas antara tinggi dan rendah dimensi masa yang akan datang daripada antara
tinggi dan rendah dimensi saat ini.
Hasil penelitian mereka juga menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata untuk
semua aspek perencanaan lebih besar pada kuadran strategic dan support.
Karena itu, mereka juga melakukan uji-t untuk membuktikan perbedaan kedua
kuadran tersebut dilihat dari aspek perencanaan SI dan hasilnya secara signifikan
menunjukkan perbedaan tersebut. Implikasi penelitian mereka menekankan pada
sifat kontijen perencanaan SI dan kebutuhan untuk menyesuaikan aspek
perencanaan SI dengan peranan SI dalam organisasi.
Premkumar dan King (1992) memperluas penelitian yang telah dilakukan
oleh Raghunathan dan Raghunathan (1990). Mereka menambahkan 7 variabel
perencanaan SI, menggabungkan 2 variabel perencanaan SI, dan membuang satu
variabel perencanaan SI sehingga menjadi 11 variabel perencanaan SI yang
dibaginya ke dalam tiga karakteristik, yaitu karakteristik perencanaan, karakteristik
organisasional, karakteristik kinerja perencanaan. Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Raghunathan dan Raghunathan (1990), Premkumar dan King
(1992) menggabungkan kuadran strategic dengan turnaround dan kuadran support
dengan factory dalam menganalisis data. Mereka menggunakan t-test dan chisquare
dalam melakukan analisis terhadap 249 sampel dan hasilnya menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam karakteristik perencanaan,
organisasional, dan kinerja dari perencanaan SI di antara organisasi yang
mempunyai peranan SI yang berbeda-beda. Karakteristik perencanaan dan
organisasional secara umum sesuai dengan prediksi implisit dalam strategic grid.
Karena itu, penelitian ini memberi validasi parsial pada strategic grid sebagai alat
untuk mengevaluasi peranan SI di dalam organisasi. Sedangkan karakteristik
kinerja perencanaan SI untuk variabel kinerja fungsi SI belum didukung oleh data.
Kedua penelitian yang diuraikan di atas merupakan penelitian yang
dilakukan di Amerika. Untuk situasi di Indonesia, penelitian serupa telah dilakukan
oleh Hartawan (1996) dengan mendasarkan pada penelitian yang dilakukan
Premkumar dan King (1992). Kuesioner yang digunakannya untuk pengumpulan
7
data penelitian merupakan kuesioner yang dikembangkan oleh Premkumar dan
King (1992) dan menganalisis sebanyak tiga puluh sembilan sampel. Alat analisis
yang digunakan adalah uji-t dan chi-square untuk mengevaluasi beda rata-rata
organisasi dari tiga karakteristik sistem perencanaan SI (perencanaan,
organisasional, dan kinerja perencanaan) pada rerangka strategic grid. Hasilnya
menunjukkan bahwa karakteristik perencanaan untuk variabel sumber-sumber
perencanaan SI tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok
strategic/turnaround dengan kelompok support/factory, yang berarti tidak
mendukung hasil penelitian Premkumar dan King (1992); sedangkan untuk
karakteristik organisasional mendukung penelitian Premkumar dan King (1992)
yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok
strategic/turnaround dengan kelompok support/factory. Karakteristik kinerja untuk
semua variabel menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok
strategic/turnaround dengan kelompok support/factory.

http://naocta.wordpress.com/2009/12/31/sistem-informasi-akuntansi-dan-sim/

Pengertian SIA

sistem adalah : Suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

Informasi adalah pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi [1]. Namun demikian, istilah ini memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya, dan secara umum berhubungan erat dengan konsep seperti arti, pengetahuan, negentropy, komunikasi,kebenaran, representasi, dan rangsangan mental.
Dalam beberapa hal pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa tertentu atau situasi yang telah dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi, pengumpulan intelejen, ataupun didapatkan dari berita juga dinamakan informasi. Informasi yang berupa koleksi data dan fakta seringkali dinamakan informasi statistik. Dalam bidang ilmu komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses, atau ditransmisikan. Penelitian ini memfokuskan pada definisi informasi sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi dan alirannya.
transformasi data menjadi informasi

Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajakdan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah seni dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Secara luas, akuntansi juga dikenal sebagai "bahasa bisnis".[1] Akuntansi bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur, atau pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah pembukuan. Akuntansi keuangan adalah suatu cabang dari akuntansi dimana informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat, diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan. Auditing, satu disiplin ilmu yang terkait tapi tetap terpisah dari akuntansi, adalah suatu proses dimana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan suatu organisasi untuk memberikan suatu pendapat atau opini - yang masuk akal tapi tak dijamin sepenuhnya - mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi yang berterima umum.


Sistem Informasi Akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang merubah data transaksi bisnis menjadi informasi keuangan yang berguna bagi pemakainya

http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi